Home » Kisah Juwanti: Pedagang Desa yang Tumbuh Bersama Program Makan Bergizi Gratis
WhatsApp_Image_2026-05-01_at_19_44_40

KASONGAN – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) mulai menunjukkan dampak nyata, tidak hanya dalam meningkatkan asupan gizi masyarakat, tetapi juga dalam memperkuat ekonomi pelaku usaha kecil di tingkat desa. Implementasi program ini secara perlahan menghadirkan perubahan positif yang dirasakan langsung oleh masyarakat, khususnya mereka yang terlibat dalam rantai pasok kebutuhan pangan.

Salah satu yang merasakan manfaat tersebut adalah Juwanti (42), seorang pedagang sayur di Desa Samba Danum, Kecamatan Katingan Tengah. Selama ini, Juwanti menggantungkan penghidupannya dari berjualan di pasar tradisional dengan kondisi pendapatan yang tidak menentu. Jumlah pembeli yang fluktuatif membuat penghasilannya sering kali berubah-ubah, bahkan terkadang tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Namun, sejak dirinya bergabung sebagai pemasok kebutuhan pangan untuk Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di wilayah Samba Danum, kondisi usahanya mulai mengalami perubahan yang signifikan. Kehadiran program MBG memberikan peluang baru yang sebelumnya tidak pernah ia bayangkan.

Permintaan sayuran yang rutin dari dapur SPPG kini menjadi sumber pendapatan yang lebih pasti bagi Juwanti. Dengan adanya pesanan harian, ia tidak lagi khawatir dagangannya tidak terjual. Kepastian pasar tersebut memberikan rasa aman sekaligus membuka ruang bagi perencanaan usaha yang lebih matang.

“Sekarang ada pesanan setiap hari, jadi saya bisa lebih siap dan tidak khawatir dagangan tidak habis,” ujar Juwanti dengan penuh rasa syukur.

Tidak hanya memberikan dampak dari sisi ekonomi, keterlibatan dalam program ini juga mendorong Juwanti untuk meningkatkan kualitas usahanya. Ia mulai menerapkan standar kebersihan yang lebih baik, menjaga kesegaran sayuran, serta memperhatikan proses penanganan sebelum didistribusikan ke dapur SPPG. Hal ini dilakukan untuk memenuhi standar kualitas bahan pangan yang dibutuhkan dalam penyediaan makanan bergizi bagi masyarakat.

Perubahan tersebut secara tidak langsung meningkatkan profesionalisme dalam menjalankan usaha kecil di tingkat desa. Juwanti kini lebih teliti dalam memilih barang dagangan, lebih teratur dalam pengelolaan stok, serta mulai memahami pentingnya menjaga kualitas produk untuk mempertahankan kepercayaan konsumen.

Program MBG sendiri dirancang tidak hanya sebagai bentuk intervensi dalam pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat, tetapi juga sebagai strategi untuk menggerakkan ekonomi lokal. Dengan melibatkan pelaku usaha kecil seperti pedagang sayur, petani, hingga distributor lokal dalam rantai pasok, program ini menciptakan ekosistem ekonomi yang lebih inklusif dan berkelanjutan.

Perputaran ekonomi di tingkat desa pun mulai menunjukkan peningkatan. Pelaku usaha kecil yang sebelumnya menghadapi ketidakpastian kini memiliki peluang untuk berkembang, meningkatkan kapasitas usaha, serta memperbaiki taraf hidup mereka secara bertahap.

Bagi Juwanti, kehadiran program MBG bukan sekadar bantuan jangka pendek, melainkan peluang nyata untuk membangun usaha yang lebih stabil dan berkelanjutan. Ia berharap program ini dapat terus dilaksanakan agar semakin banyak masyarakat desa yang merasakan manfaatnya.

“Semoga program ini terus berjalan, karena sangat membantu kami untuk menjalankan usaha dengan lebih baik,” tutupnya.

(tri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *